Naskah Drama Kelompok Sipatujapit
KETIKA NARKOBA MENCABUT NYAWA
Di suatu tempat, tinggalah seorang gadis yang setengah
laki-laki bernama Rastra. Dia sudah ditinggal ayahnya sejak usia 4 tahun.
Sehingga hanya ibunya saja yang merawatnya. Cara berpenampilannya cenderung kelaki-lakian. Sedangkan ibunya itu
keturunan dari orang solo yang sangat halus sehingga sering kali ibunya
menyuruhnya agar lebih berpenampilan feminine. Namun smua itu percuma karena
Rastra terus menolak.
Disuatu hari, Rastra
sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah temannya.
Ibu :”Rastra, cobalah kamu
berpenampilan yang lebih feminine toh nduk..nduk! kamu itu perempuan. Gak selayaknya kamu berpenampilan seperti ini nduk!!”
Rastra :”Ibu gak tau jaman sekarang
sih! Sekarang sudah gak jamannya cewe pakek kebaya bu…!”
Ibu :”Ya wislah nduk, kalau
kamu gak mau dengerin kata-kata ibu”
Rastra :”Huh.. aku pergi dulu bu!
Mau ke temen”
Ibu :”Ya. Hati-hati di jalan”
Rastra :”Ok..ok..”
Sesampainya Rastra di
rumah temannya yaitu Radit, dia bebincang-bincang dengan
Radit. Ternyata Radit adalah seorang pecandu narkoba. Dia mencoba
membujuk Rastra
agar mau mencoba shabu-shabu.
Radit :”Hei bro.. kusut amet muka
lu? Kenapa lu?”
Rastra :”Iya nih, nyokap marah lagi”
Radit :”Halah… pasti gara-gara
penampilan lu!! Hahaha”
Rastra :”Iya nih”
Radit :”Nih, gue kasih obat manjur
buat ngelupain masalah. Coba aja nih. Di jamin lu lupa sama masalah lu.
Rastra :”Apaan itu?”
Radit :”Udah… pakek aja ini shabu.
Cara pakek nya tinggal di hisap, atau di suntikin aja ke lengan lu.”
Rastra :”Hm… ya deh, ntar gue coba
di rumah. Gue pulang dulu ya”
Radit ;”Nah.. gitu donk. Ya udah,
sono gih pulang”
Rastrapun terpengaruhi
dengan omongan Radit. Dia akhirnya menjadi pecandu
juga. Saat di jalan, dia bertemu
dengan temannya, Vega dan Tara.
Vega :”Hai Rastra, darimana
kamu?”
Rastra :”Dari rumahnya radit.”
Tara :”Apa yang kamu bawa itu
Rastra?”
Rastra :”Oh, ini obat penghilang
stress dari Radit”
Vega :”Oh… kirain… gak jadi deh.
hehe”
Rastra :”Kirain apa?”
Tara :”Ah.. udahlah gak usah di
bahas. Kita duluan ya Rastra, mau ke rumah Vega. Da….”
Rastra “Da juga…”
Di tengah perjalanan, Vega dan Tara membicarakan
obatpenghilang stress milik
Rastra.
Vega :”Aku curiga sama obat tadi.
Jangan-jangan itu narkoba”
Tara :”Ih.. jangan berprasangka
jelek kamu. Siapa tau itu memang obat stes.”
Vega :”Gimana kalau kita minta
obatnya.”
Tara :”Hah? Buat apa?”
Vega :”Dasar goblok! Kita bawa ke
dokterlah. Terus kita tanyain, berbahaya gak obat itu. Gimana?”
Tara :”Ok juga ide kamu.. ya
deh, besok kita minta aja”
Merekapun melanjutkan
perjalanan ke rumah Vega. Sementara itu,sesampainya di rumah, Rastra menyapa
ibunya yang sedang menyulam dan menyanyi.
Ibu :”Yen ing tawang ana
lintang..cah ayu..”
Rastra :”Hai bu…”
Ibu :”Dari mana toh nduk?”
Rastra :”Dari rumah Radit”
Ibu : “Ya wis, mandi sana,
trus makan. Ibu masak enak buat kamu nduk”
Rastra :”Iya bu”
Setelah menyapa ibunya,
Rastra masuk ke kamar dan mencoba obat dari Radit.
Rastra :”Ah… bener juga kata Radit.
Gue jadi makin tenang aja. Ha..ha.ha obatdatang, masalah ilang, ada ada saja Radit itu. Kalau bahasa jawanya
ana-ana bae Radit kui, kalau bahasa
sundanya Aya-aya wae kali ya.. hihihihi tauk ah, mending tidur””
Rastrapun tertidur
hingga keesokan harinya. Dan pagi-pagi sekali vega dan tara berkunjung ke rumah
rastra.
Tara & Vega:”Assalamu’alaikum..”
Ibu :”Wa’alaikum salam.. ada apa nduk?”
Tara :”Rastranya ada bu?”
Ibu :”Ada, masuk dulu sini. ibu panggilin
Rastra.”
Vega :”Ya bu”
Ibu pun menuju kamar
Rastra dan memanggil rastra.
Ibu :”Rastra, ada teman kamu itu lho.”
Rastra :”Ya bu”
Rastrapun keluar dari
kamar.
Rastra :”Eh, kalian.. ada apa?”
Tara :”Gak papa, kita cuma mau
minta obat stress kamu yang dari Radit. Sedikit aja kok. Gak semua.”
Rastra :”Buat apa?”
Vega :”Udah… minta aja”
Rastra :”Ya, sebentar, aku ambilin”
Rastra mengambil obatnya di kamar dan
segera kembali menemui temannya.
Tara :”Mana?”
Rastra “Iya.. nih”
Vega :”Makasih ya.. kita pamit
dulu. Asalamualaikum..”
Rastra :”hoahh…. (menguap) yaya”
Vega dan tara membawa
obat itu ke dokter.
Tara :”Dok, apa ini obat
berbahaya?”
Dokter :”Yaallah… ini
shabu-shabu dek”
Vega :”Apa?? Berarti bahaya
dong?”
Dokter :”Iya dek.. sangat
berbahaya”
Tara :”Ya.ya.ya udah dok, kami
pamit dulu.”
Dokter :”Iya dek, eh dek.
Lebih baik obat itu di musnahkan saja. Itu sangat berbahaya dek.”
Vega :”Ya dok”
Vega dan Tarapun segera
menuju rumah Radit. Disana, mereka melihat Radit
Sedang menyuntikkan sesuatu di lengannya.
Vega :”Hentikan Radit! Itu obat
berbahaya. Kamu bisa mati gara-gara obat itu.”
Radit :”Halah… tau apa kamu
tentang obat? Mati atau gak mati Hidup-hidup
gue sendiri!ngapain lu ngatur gue?!”
Tara :”Kami bukan ngatur atau
melarang, tapi kami peduli sama kamu!”
Radit :”Halah-halah… udah.. sono
pergi aja kalian. Gak usah ngatur hidup gue!!’’
Tara dan vega pun pulang
ke rumah masing-masing. Namun, keesokan harinya,
mereka mendengar kabar buruk bahwa Radit meninggal dunia akibat
ofer dosis. Mereka
segera ke rumah rastra.
Tara :”Bu, rastra ada??”
Ibu :”Ya, ada apa nduk?Kenapa panik?”
Vega :”Radit meninggal ofer dosis
shabu-shabu. Dan kami ingin memberi tahu Rastra, karena Rastra juga memakai
obat yang sama seperti Radit.”
Ibu :”Apa??Rastra pakai
shabu-shabu juga toh??”
Tara :”Iya bu.. Rastra mana?”
Ibu :”Ya, ayo ke kamar Rastra”
Ketika mereka sampai di
kamar Rastra,mereka mendapati rastra tak sadarkan diri.
Mereka panik dan segera membawa Rastra
ke rumah sakit. Setelah di tangani Dokter,
sang ibu segera bertanyatentang keadaan Rastra pada sang Dokter.
Ibu :”Bagaimana keadaan anak
saya dok??”
Dokter :”Anak ibu sangat
kritis. Dia koma, lebih baik ibu dan adek-adek semua berdo’a saja agar Rastra
tertolong.
Ibu :”Ya Allah.. Rastra…, kami
boleh masuk Dok?”
Dokter :”Ya, silahkan.
Di dalam ruang rawat,
Rastra sempat sadar dan bertanya pada ibunya sebelum dia
Kembali kritis lagi.
Rastra :”Ibu, a…a..pakah mas..masih
ada kesem..patan un..untuk aku bertaubat?”
Ibu :”Ada nduk, tapi kamu
harus berjuang ya, berjuang buat sembuh.”
Rastra :”Iya, ta..tapi aku su..sudah
gak kuat la..lagi bu. Ma..maafin Rastra ka..kalau Rastra se..selama ini
na..nakal”
Setelah sempat berbicara
pada ibunya, tiba-tiba nafas Rastra mulai tersendat-
sendat seperti sekarat. Lalu
ibunya menuntunnya mengucapkan dua kalimat shahadat.
Ibu :”dengar ibu nak, ikuti
kata ibu. Ashadualla..ilaha illaullah, wa’ashadu anna muhammadar rasulullah..”
Rastra :”As..hadu alla..ha
illaullah, was hadu anna munamm adar rasuuulullah”
Setelah mengucapkan dua
kalimat sahadat, Rastra semakin kritis, lalu Dokter
segera memeriksa denyut nadinya. Namun, tiba-tiba sang Dokter
menggelengkan kepala.
Ibu :”Ada apa dok? (wajahnya
sangat cemas)”
Dokter :”Zat beracun dari
shabu-shabu yang anak ibu hisap sangat mematikan.Dan anak ibu terlalu banyak
menghisapnya. Sehingga tubuh anak ibu tidak bisa menerima zat beracun sebanyak
itu. Kami dari pihak medis sudah berusaha sebisa mungkin. Namun, kami minta
maaf karena anak ibu tidak tertolong”
Vega :”Apa dok??”
Tara :”Rastra meninggal?”
Dokter :”Iya..”
Ibu :”Rastra…………………………………………………”
Sang ibu berteriak karena tak rela kehilangan anak tercintanya, yang mati
karena narkoba.
PESAN MORAL : Janganlah
sekali-kali kalian mencoba NARKOBA dan sejenisnya.
Sekali
pun kalian mencoba, itu artinya, kalian
telah meracuni diri sendiri.
TOKOH-TOKOH DAN WATAKNYA:
RASTRA :BANDEL, SUSAH DI
ATUR, KASAR
IBU :PENYABAR, BAIK HATI, HALUS
RADIT :NAKAL, URAKAN
VEGA :BAIK, PINTAR
TARA :BAIK,SEDIKIT BEGO
DOKTER :PENOLONG, RAMAH,
BAIK
PEMBAGIAN PERAN:
RASTRA :DYAH AYU LESTYANI
IBU :SULIS
MARDIANTI
RADIT :RUDI HERIYANTO
VEGA :SITI NUR AFRIKA
TARA : YENI ERNAWATI
DOKTER : USWATUN KHASANAH



Tidak ada komentar:
Posting Komentar